Pagiku menjelang…
Hentakan debar dalam hati mengejutkanku
Serupa wajah hadir kembali dalam benakku
Meski qalbu meronta untuk menolak
Takut akan teguran Sang Pembolak-baliknya
Saat tak mampu kubendung lagi kata-kata
Pada secarik kertas ini kuungkapkan
Meski ini bukan tempat semestinya
Tapi tak ada media lain yang dapat kugunakan
Melayang anganku akan suatu tempat
Kutatap pemandangan dengan keelokannya
Seorang gadis kecil berlari dengan tali-tali cantik di gaunnya
Diiringi hempasan angin yang bertiup yang menyejukkan
Sungguh semuanya nampak di dekatku
Menyapaku di depan mata
Saat tangan mengulur untuk menyambut
Tersadar aku harus bersabar sejenak waktu
Kebesaran dan keagungan yang hampir kurengkuh
Masihlah sebentuk maya fatamorgana
Mungkin semuanya akan kudapat
Atau bisa jadi fatamorgana itu menjadi keabadian
Ku tersentak tatakala sebuah suara lembut mengingatkan
“Dans cinq minute” atau “Lima menit lagi”
Ku terdampar dalam ruangan penuh sesak
Ujian Français des medias pun telah berakhir
Rabu, 05 Januari 2011
Saudari kita Akhwat Juga
Sedikit terkejut saat membaca status teman di FB. Meskipun hal itu pernah dibahas saat jaman KKN dulu. “heran dengan orang-orang yang menyebut dirinya ‘alim’ kalo manggil ke golongannya yang menyebut ‘akhwat’ tapi menyebut ‘awewe’ pada yang bukan golongan mereka. apa mereka itu tidak tahu bahwa akhwat itu sama dengan awewe” kurang lebih seperti itu redaksi statusnya. beliau tampak kecewa pada orang-orang yang dikatakannya merasa “alim”. Saya mencoba menklarifikasi dan ternyata beliau sangat kecewa karena orang-orang itu menyebut kata “awewe” dengan nada merendahkan.
Sahabat mungkin tanpa sadar kita juga pernah berlaku deskriminasi pada mereka. Merasa paling alim, hanya karena pakaian kita, hanya karena kita mendapat kesempatan mengaji, hanya karena kita lebih tahu ilmu itu lebih dulu dari mereka. Lantas apa kita bisa dengan semena-mena menghakimi, menjudge, dan meremehkan mereka? Sahabat itu ujub namanya… belum tentu Anda semua akan selamat di hari akhir sana. Sahabat… Anda dihormati karena Allah menutup kebusukan kalian, bukan karena Shaleh atau Shalehah.
Sahabat, saya yakin Anda tidak pernah lupa bagaimana Rasulullah memuliakan orang lain? manusia paling mulia saja selalu bersikap baik pada semua orang. Lantas kita? kita orang yang jelas-jelas hina berani meremehkan orang lain? Astagfirullah…
Sahabat, saya paham arti sebenarnya akhwat adalah saudari. Jika Anda katakan hal itu pada teman seperjuangan Anda dalam berdakwah, silahkan. Namun bersikaplah adil pada saudari kita yang lain, mereka berhak dipanggil akhwat juga bukan?bukankah tidak ada peraturan bahwa yang berhak dipanggil akhwat adalah sekelompok wanita yang mengenakan jilbab lebar? Jika Anda khawatir mereka tidak satu keyakinan dengan kita panggilah mereka dengan sebutan “wanita” ataupun “perempuan” tanpa bermaksud atau mengandung kata meremehkan.
Sahabat mungkin tanpa sadar kita juga pernah berlaku deskriminasi pada mereka. Merasa paling alim, hanya karena pakaian kita, hanya karena kita mendapat kesempatan mengaji, hanya karena kita lebih tahu ilmu itu lebih dulu dari mereka. Lantas apa kita bisa dengan semena-mena menghakimi, menjudge, dan meremehkan mereka? Sahabat itu ujub namanya… belum tentu Anda semua akan selamat di hari akhir sana. Sahabat… Anda dihormati karena Allah menutup kebusukan kalian, bukan karena Shaleh atau Shalehah.
Sahabat, saya yakin Anda tidak pernah lupa bagaimana Rasulullah memuliakan orang lain? manusia paling mulia saja selalu bersikap baik pada semua orang. Lantas kita? kita orang yang jelas-jelas hina berani meremehkan orang lain? Astagfirullah…
Sahabat, saya paham arti sebenarnya akhwat adalah saudari. Jika Anda katakan hal itu pada teman seperjuangan Anda dalam berdakwah, silahkan. Namun bersikaplah adil pada saudari kita yang lain, mereka berhak dipanggil akhwat juga bukan?bukankah tidak ada peraturan bahwa yang berhak dipanggil akhwat adalah sekelompok wanita yang mengenakan jilbab lebar? Jika Anda khawatir mereka tidak satu keyakinan dengan kita panggilah mereka dengan sebutan “wanita” ataupun “perempuan” tanpa bermaksud atau mengandung kata meremehkan.
Aku Ingin Menjadi Anggrekmu…
Jika semisal wanita di ibaratkan bunga
Aku memilih menjadi setangkai anggrek
Anggrek, laksana bunga yang baik dan anggun
Anggrek yang tidak memiliki kecantikan yang mencolok
Ataupun harum semerbak
Aku ingin seperti anggrek yang baik dan anggun
Karna aku tahu…
Aku tidak seperti mawar yang cantik mempesona namun tetap tegas
Aku pun tidak seramah melati yang harum semerbak sehingga orang-orang merasa nyaman bersahabat dengannya
Aku pun tidak secantik dan seelegan bunga tulip
Aku tidak seindah dan tak sekelas sakura
atau pun tidak sekuat dan setangguh edelwise
Atau seceria bunga lili dan kemuning
Namun aku juga tak ingin seperti reflesia yang hidup disembarang tempat
Cukuplah aku menjadi anggrekmu
Yang apabila sudah tiba saatnya
Bisa kau petik dan nikmati keindahanku
Menyenangkanmu, dan membuatmu bersyukur memilikiku…
Aku memilih menjadi setangkai anggrek
Anggrek, laksana bunga yang baik dan anggun
Anggrek yang tidak memiliki kecantikan yang mencolok
Ataupun harum semerbak
Aku ingin seperti anggrek yang baik dan anggun
Karna aku tahu…
Aku tidak seperti mawar yang cantik mempesona namun tetap tegas
Aku pun tidak seramah melati yang harum semerbak sehingga orang-orang merasa nyaman bersahabat dengannya
Aku pun tidak secantik dan seelegan bunga tulip
Aku tidak seindah dan tak sekelas sakura
atau pun tidak sekuat dan setangguh edelwise
Atau seceria bunga lili dan kemuning
Namun aku juga tak ingin seperti reflesia yang hidup disembarang tempat
Cukuplah aku menjadi anggrekmu
Yang apabila sudah tiba saatnya
Bisa kau petik dan nikmati keindahanku
Menyenangkanmu, dan membuatmu bersyukur memilikiku…
Langganan:
Postingan (Atom)